Jadi Bagian dari Sejarah Kabupaten Karanganyar, Burung Derkuku Ternyata Punya Banyak Mitos

Pemkab Karanganyar baru saja meluncurkan logo HUT yang ke-104 Karanganyar dengan slogan Maju dan Berdaya Saing. Peluncuran itu dilakukan pada Jumat (1/10/2021).  Dalam slogan itu ada visualisasi burung derkuku yang disebut menjadi bagian dari sejarah berdirinya kabupaten yang berada di bawah kaki Gunung Lawu ini.

Lantas bagaimana hubungan burung derkuku dengan sejarah Kabupaten Karanganyar dan apa saja mitos yang menyelimutinya? Keterkaitan burung derkuku dengan sejarah Karanganyar tak lepas dari kisah tentang Nyi Ageng Karang.

“Sejarah Karanganyar tidak bisa lepas dari Nyi Ageng Karang. Makamnya ada di Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Karanganyar,” kata Kustawa Esye, Ketua Komunitas Kiai Damar Sesuluh Karanganyar, saat diwawancarai Solopos.com pada 2015 lalu.

Kustawa Esye biasa disapa Cak Kus memulai cerita sejarah Karanganyar, berawal dari pertemuan Nyi Ageng Karang dengan Raden Mas Said.

Nyi Ageng Karang adalah istri Pangeran Diponegoro dari Keraton Mataram di Kartasura, Sukoharjo. Sejarah mencatat suami dan istri itu berjuang melawan Belanda. Bahkan Nyi Ageng Karang membentuk laskar perempuan.

Seorang sesepuh masyarakat Karanganyar, Suparjono, mengatakan Nyi Ageng Karang juga dikenal sebagai Raden Ayu Diponegoro atau Raden Ayu Sulbiyah. Dia adalah istri Pangeran Diponegoro. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda dan diasingkan ke Afrika Selatan maka Nyi Ageng Karang mengasingkan diri di hutan belantara.

“Cikal bakal Karanganyar adalah Nyi Ageng Karang yang bertapa di hutan setelah suaminya ditangkap penjajah Belanda,” katanya.

Saat bertapa, Nyi Ageng Karang mendapat wangsit akan bertemu ksatria yang akan meneruskan cita-cita luhurnya. Ksatria tersebut akan dikawal tiga pengikutnya. Beberapa waktu kemudian, Nyi Ageng Karang bertemu dengan Raden Mas Said di dalam hutan belantara. Raden Mas Said dikawal oleh tiga pengikutnya.

“Singkat cerita, Nyi Ageng Karang bertemu dengan Raden Mas Said. Nah, Raden Mas Said ini cucu Nyi Ageng Karang. Mereka bertemu di padepokan Nyi Ageng Karang,” tutur Cak Kus.

Suguhkan Burung Derkuku

Sebagai tuan rumah, Nyi Ageng Karang menjamu cucunya yang juga dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa. Julukan itu diberikan kepada Raden Mas Said karena kelihaian dan kedigdayaan mengalahkan tentara Belanda.

Saat itu, Nyi Ageng Karang menyuguhkan jenang bekatul dan burung tekukur atau disebut burung derkuku. Di sinilah irisan sejarah Karanganyar dengan burung derkuku.

“Raden Mas Said tidak menyadari bahwa Nyi Ageng Karang sedang mengajarkan filosofi perang melawan tentara Belanda. Ya, lewat suguhan yang disajikan itu,” lanjut Cak Kus.

Raden Mas Said menyantap jenang bekatul. Dia menyendok jenang dari tengah. Diceritakan bahwa Raden Mas Said kepanasan. “’Nak Mas Said, kalau makan jenang bekatul itu dari tepi lalu perlahan ke tengah.’ Kurang lebih seperti itu yang dikatakan Nyi Ageng Karang. Filosofi itu sama dengan strategi melawan tentara Belanda,” jelas dia.

Nyi Ageng Karang menyarankan Raden Mas Said menyerang tentara Belanda dengan strategi gerilya. Nah, burung derkuku yang juga disuguhkan kepada Raden Mas Said memiliki makna berbeda.

Cak Kus menguraikan Nyi Ageng Karang menerima wangsit saat bertapa. Isi wangsit kurang lebih menyatakan barang siapa memakan burung derkuku akan menjadi raja.

“Raden Mas Said menjadi raja, yakni Raja Mangkunegara I. Raden Mas Said juga menuturkan tempat pertemuan itu akan menjadi keramaian zaman. Dia menamai Karanganyar karena merasa mendapat pencerahan baru,” urai Cak Kus.

Mitos Burung Derkuku

Bagi sebagian orang, burung derkuku memiliki keistimewaan tersendiri. Hal ini tak lepas dari mitos yang menyelimutinya. Orang Jawa kuno meyakini burung yang termasuk dalam keluarga merpati ini memiliki arti dan makna. Banyak orang menganggap burung ini memiliki kekuatan gaib dan dapat memberikan wejangan tersendiri bagi pemiliknya, seperti dikutip dari kacer.co.id.

Burung derkuku ini dipercaya dapat memberikan banyak rejeki yang memudahkan dan memperlancar dalam berusaha dan mencari rezeki. Burung ini juga sebagai simbol kedamaian dan kerukunan bagi tuan rumah atau pemiliknya jika burung ini sering berkicau gacor dengan suara yang merdu.

Tidak hanya itu saja, ada tidak sedikit orang yang mempercayai burung ini dapat menangkal bala dan sebagai penjaga rumah dari kejahatan orang yang ingin niat buruk kepada pemilik rumah. Seperti menolak santet atau teluh kiriman orang dari jarak jauh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *