Ilmuan Ini Mengungkapkan Skenario Kemusnahan di Muka Bumi, Tanda Tandanya Mulai Terlihat Belakangan Ini.

Begitu banyaknya manusia di bumi ini. Jumlahnya lebih dari 7,85 miliar jiwa (Worldometers.info). Berjubel naik KRL, antrean bantuan mengular, kemacetan luar biasa saat musim mudik, dan lainnya. Berebut lowongan pekerjaan terkadang bahkan saling bersaing dalam mempertahankan status sosial dan ekonomi. Lalu terkadang kita membayangkan bagaimana rasanya hidup di bumi tanpa keributan, makanan datang dengan sendirinya dengan persediaan melimpah tanpa harus bersusah payah untuk mencarinya. Seluruh fasilitas di penuhi dan kita dapat melakukan hal apapun yang kita suka. Bukankah terdengar menyenangkan?

Para peneliti kemudian dengan sangat lancang menyentuh ranah ‘Tuhan’ itu dengan melakukan eksperimen Penciptaan Surga. Sebuah eksperimen yang dikemudian hari dikenal dengan nama Eksperimen Universe 25. Eksperimen tersebut berlangsung tahun dilakukan dari tahun 1954 hingga 1972  yang dilakukan oleh John Calhoun. Ia mulai melakukan eksperimen dengan apa yang ia sebut sebagai Negeri Utopia. Tentu saja simulasi dari eksperimen ini adalah spesies yang tidak membahayakan. Tikus. Iya, tikus yang kadang mengambil jatah makananmu di dapur, hehe.

John Calhoun yang memang sangat penasaran pada perilaku hewan itu pun mulai membangun gedung-gedung penuh makanan dan air bagi para tikus. Para tikus itupun juga dibersihkan sampai bebas dari kuman. Segala yang mereka perlukan sudah tersedia didalam ruangan itu.

Baca Juga : Alhamdulillah, Pasca Operasi Beginilah Kondisi Tukul Arwana

Calhoun menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menyempurnakan metodenya dan mengulangi eksperimennya sebanyak 25 kali dalam skala yang berbeda dan mencatat hasil yang sangat identik setiap saat.

Desain habitat ini sederhana. Tata letaknya berbentuk persegi panjang berukuran sepuluh kali empat belas kaki yang dibagi menjadi empat bagian yang sama oleh pagar listrik. Setiap bagian dilengkapi secara identik dengan tempat gerbong makanan, air dan tempat bersarang. (Ditampilkan pada gambar di bawah)

Gambar dari John B. Calhoun, sketsa tata letak Mouse Universe Dirancang oleh Calhoun

Tikus-tikus itu tidak lagi mencuri makanan. Tidak lagi khawatir akan dibunuh atau dijebak. Suhu didalamnya bahkan senantiasa dijaga dan disesuaikan demi kenyamanan para Tikus. Karena mereka sudah tidak pusing perihal makanan dan sarang, alhasil mereka melakukan satu-satunya kegiatan menyenangkan yang pasti dilakukan setiap makhluk dewasa ketika dipasangkan. Kawin. Mereka kawin, kawin dan kawin hingga berkembang biak berapa kalipun mereka mau. Itu Benar-benar menjadi sebuah Surga dunia bagi para Tikus manapun dimuka bumi.

Namu, Semua mulai goyah tatkalah para tikus mulai lupa diri. Jumlah mereka berkembang dua kali lipat setiap dua bulan. Dan sesuai dengan hukum eksponensial. Populasi mereka melonjak dengan sangat drastis hanya dalam beberapa bulan selanjutnya.

Tikus-tikus ini pada dasarnya tidak kekurangan apapun tidak peduli berapa banyak jumlah mereka. Jumlah makanan yang disediakan tetap tidak terbatas. Ketersediaan air berlimpah. Dan lagi Mereka tidak perlu mengkhawatirkan kehadiran pemangsa. Hanya ada satu kekurangan yang tidak bisa dipenuhi oleh John Calhoun pada tikus-tikus yang sudah membludak ini. Ia tidak bisa memberikan penambahan ruang bagi para tikus tersebut. Karena sama halnya dengan manusia, tidak peduli jadi sekaya apa seseorang, luas tanah dibumi tidak akan pernah berubah menjadi lebih luas apabila telah mencapai over populasi.

Betul kan? Andai setiap manusia tercukupi semua kebutuhannya, Bumi tidak akan pernah semakin besar hanya karena kita punya segalanya. Ingat. Kita sedang membicarakan tentang surga dunia. Begitupun halnya para tikus ini. Surga bagi mereka didunia ini akan tetap ada. Tapi urusan populasi dan ruang adalah masalah mereka.

Dalam percobaan terakhirnya, ruang yang dia rancang berpotensi menampung 3.840 tikus tetapi populasinya mencapai 2.200 tikus dan mulai menurun dari sana sambil menunjukkan berbagai perilaku abnormal yang seringkali merusak.

Dilansir dari laman ncbi.nlm.nih.gov menunjukkan apa yang disebut Calhoun sebagai perilaku tenggelam yang berarti peningkatan aktivitas patologis akibat stres yang terlibat dalam populasi tinggi.

Adanya perubahan pada tikus betina dan jantan. Jantan menjadi dominan yang kadang-kadang akan menyerang anggota lain – termasuk bayi – sering menggigit dan melukai ekornya. Bagi betina, penurunan perilaku ini akan terlihat dalam berkurangnya kapasitas dalam membangun sarang dan pemeliharaan anak.

Baca Juga : Kejadian Aneh, Tiba-tiba Rambut Manusia Keluar dari Kuburan Berusia Ratusan Tahun.

Banyak tikus betina yang mengadopsi bentuk perilaku yang lebih agresif atau sama sekali tidak melakukan tugas keibuan. Para tikus-tikus betina menjadi stress. Mereka sadar mereka tidak bisa melawan yang kuat, maka target merekapun beralih pada tikus terlemah di dalam kelompok. Anak-anak mereka sendiri. Kebencian mereka pada ketidakadilan teralihkan pada anak-anak yang tidak berdosa itu. Mereka menyiksanya.

Hal ini tentu semakin menurunkan tingkat populasi tikus itu secara menyeluruh. Sangat sedikit tikus-tikus muda yang mencapai tahap dewasa apalagi semakin sedikit tikus-tikus yang mau peduli.

Para tikus yang walau bagaimanapun tetap terpenuhi kebutuhan perutnya, mengalihkan hasrat kekerasan mereka pada seks. Terutama untuk generasi muda tikus itu, mereka akhirnya kecanduan pada hubungan badan sehingga menjadi Hyper sex yang parah bahkan pada sesama jenisnya sendiri. Parahnya lagi, mereka membawa satu kebiasaan baru. Yakni kanibalisme. Akibat banyaknya tingkat kematian dari hari ke hari maka tak heran upaya untuk mencicipi daging sesamanya sendiri mulai tercetus. Mereka mulai penasaran pada daging rasnya sendiri dan akhirnya mulai terbentuk golongan kanibalisme. Bayi tikus -yang sudah dibunuh pejantan dominan- disantap oleh mereka.

Gambaran Populasi Tikus di Universe 25

Pada hari ke 560, jumlah tikus yang telah menyentuh angka 2200 ekor semakin jatuh. Keganasan tak terhentikan semakin menjadi-jadi. Korban pembunuhan bergelimpangan. Praktek LGBT meningkat dan menurunkan tingkat populasi secara drastis.

Grafik Populasi Tikus di Universe 25

Dua tahun setelah percobaan ini dilakukan, tikus terakhir akhirnya dilahirkan. Dan sejak saat itu juga populasi tikus Universe 25 kian meredup, meredup, hingga akhirnya padam seluruhnya setelah tikus yang masih bernafas terakhir meninggal dunia.

Mereka punah, binasa, hilang, dan hancur berkat kelakuan diri mereka sendiri.

Eksperimen inipun tidak hanya dilakukan sekali. Tapi John Calhoun mengulanginya sebanyak 25 kali yang menjadi dasar penyebutan Eksperimen Universe 25 ini. Dan dari percobaan pertama hingga terakhir. Semua hasilnya berakhir pada satu kesimpulan yang sama. Kemusnahan total tanpa ampun.

Terlepas dari skala eksperimen, kejadian yang akan terjadi setiap kali percobaan di Universe 25:

  • Tikus akan kawin dan berkembang biak dalam jumlah banyak.
  • Akhirnya leveling-off akan terjadi.
  • Hewan pengerat akan mengembangkan perilaku bermusuhan atau anti-sosial.
  • Populasinya akan punah.

Apakah kita tidak asing dengan situasi macam “Surga Dunia Tikus” Universe 25?

Baca Juga : Bikin Bangga! Inilah Sosok Adi Utarini, Satu-satunya Orang Indonesia yang Masuk Daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *