KisahPerjuangan Ustaz Adi Hidayat Menjadi Penghafal Alquran dan Ulama yang Cerdas, Inilah Kuncinya!

Mediadakwahislami.com—Inilah kisah perjuangan Ustaz Adi Hidayat untuk menjadi seorang ahli Qur’an dan ulama yang memiliki kecerdasan luar biasa. Siapa sangka ternyata rahasianya ada pada dua hal ini, apa itu?

Sosok Ustaz Adi Hidayat dikenal sebagai penceramah dengan gaya penyampaian yang langsung mengalir. Ustaz kondang ini menyampaikan materi dakwah secara lengkap dan lugas. Apalagi Ustaz Adi hidayat dikenal sebagai ulama asal Indonesia yang memiliki kecerdasan intelektual yang sangat tinggi.

Masa sekolah Adi Hidayat penuh prestasi, bahkan ia dapat menguasai isi kitab suci Alquran beserta letak barisnya. Selain itu, ia juga menguasai ilmu hadist dan berbagai kitab agama beserta makna dan posisinya. Demi menyebarluaskan dakwah dan ilmu agama, Ustaz Adi Hidayat pun mendirikan Akhyar TV bersama dua sahabatnya pada tahun 2013.

Saat ini Ustadz Adi aktif menjadi narasumber keagamaan baik ta’lim, seminar, dan selainnya. Ia juga aktif menulis dan telah memiliki beberapa karya dalam bahasa Arab dan Indonesia. Lantas, bagaimana perjuangan Ustaz Adi Hidayat hingga bisa menjadi seorang ahli Alquran? Berikut ulasannya dibagikan melalui kanal YouTube Sahabat Mukaramah.

“Ayah saya meninggal saat saya masuk pesantren dan baiknya saya rasakan luar biasa, beliau mengajar di Musholla kecil sekarang jadi masjid, saya selalu dibawa, beliau mengajar saya tidur, sekarang gantian saya mengajar beliau tidur,” ungkap Ustaz Adi Hidayat.

“Dan kadang dipangku digendong sampe pulang, saya pernah sengaja pura-pura tidur, untuk ingin tau apa yang dikerjakan ayah saya di jalan, jaga betul supaya nggak bangun,” tambahynya.

“Begitu saya disimpan di kasur dan bangun, diajak bercanda, saya mau masuk pesantren beliau nggak sempat ngantar, saya bertemu, beliau menangis peluk saya, minta maaf nggak bisa ngantar ke pesantren,” paparnya.

“Saya belum ngerti apapun saat itu, saya bertekad InsyaAllah saya belajar dengan sungguh-sungguh,” lanjutnya.

“Sepekan dua pekan saya dapet panggilan pulang, saya tanya pada kakak saya yang ikut sekarang ada di sini di mana ayah, beliau nggak jawab, sampe di Bandung paman saya sekarang Sekhum MUI Jawab Barat menyampaikan nampaknya nggak akan terkejar sampe sana, mungkin sudah dimakamkan,” jelasnya.

“Saya ngerti, paham saat itu bahwa beliau telah wafat, saya pulang, maghrib saya dapati ibu di ruangan tengah, saya datangi menahan tangis tidak nangis sedikitpun untuk membahagiakan ibu saya,” ujarnya.

“Saya datang, saya peluk, saya temani tidurnya, itu pertemuan dengan ayah sayah terakhir di mimpi, saya bermimpi melihat sudah pake kemeja tersenyum mendadahi saya,” tambahnya.

Siapa sangka jika sosok ayah Ustaz Adi Hidayat yang mendorong dirinya untuk sampai di titik seperti saat ini menjadi seorang ulama kondang.

“Ternyata besoknya saya cari ke kamar Allahu Akbar apa yang selama ini saya pelajari di pesantren kitabnya sudah ada di kamar semua, sudah disiapkan, saya menangis saat itu, saya bawa mushaf,” ungkapnya.

“Jadi ayah saya itu bajunya pun saat wafat dibagikan kepada sahabat-sahabatnya, ibu saya kemudian menunjukkan ada jam yang nanti mau dipakai, saya bilang simpanlah, saya bawa musfah, dengan mushaf itu saya duduk di ruangang tengah menghadap kiblat dan memohon pada Allah,” ujarnya.

“Ya Allah saya tak punya kemampuan lagi membahagiakan ayah saya saat hidup di dunia, tapi mohon jadikan setiap huruf dalam Alquran ini ya Allah pahalanya mengalir untuk ayah saya,” ungkap Ustaz Adi Hidayat.

“Begitu saya baca saat itu tak bisa saya berhenti dan tiba-tiba langsung masuk ayatnya, artinya, posisinya, nomornya, nggak pernah berhenti masuk, masuk, masuk,” terangnya.

Tak hanya ayahnya, ibunya Ustaz Adi Hidayat juga berjuang untuk pendidikan anak-anaknya.

“Saya bertekad ingin berbuat baik, puncaknya saya sekolah, ibu ya Allah saya ingin berbakti pada ibunda saya, anda tau apa yang terjadi? demi Allah saya katakan ketika anda bersabar, ibu saya itu waktu krisis 97 saya masuk pesantren, saya diberikan sempurna bekal seperti anak-anak lain,” jelasnya.

“Rupanya ibu saya sudah tanya kepada orangtua santri berapa bekal yang diberikan, dikasih yang paling tinggi, itu dikasih kepada kami tiap bulan, saya terima, satu kali libur saya pulang dari jauh ibuk saya selalu tersenyum melihat saya sedang jemur pakaian,” ungkap Ustaz Adi Hidayat.

“Begitu saya tiba kaget saya, kok pakaian ibu saya pakaiannya ngak cocok dipake, kayak akin pel, saya masuk ke rumah saya buka lemarinya, saya tak temukan sedikitpun,” terangnya.

“Saya kejar kakak saya, kakak perempuan kami yang kedua mana pakaian ibu saya, perhatiakan jawabannya dia menangis saat itu, dia bilang mama itu telah menjual semua perhiasan dan pakaiannya untuk pendidikan kamu, untuk kita, dijual,” beber Ustaz Adi Hidayat.

“Dan bertahan 150 ribu per bulan saat krisis, jadi rupanya ibu saya itu makan nasi cuma sekali, beliau mengajar, jadi berangkat sekolah itu cuma minum pisang minm kopi, makan nasinya malam,” bebernya.

“Saya bilang ya Allah saya akan ganti baju ibu saya dengan kain ihrom, dan saya gandeng tangannya di masjidil Haram,” ungkap Ustaz Adi Hidayat.

“Lalu apa yang terjadi? begitu saya kuliah di Libya, Alhamdulillah saya berangkat dan serius belajar, saat itu kemudian Allah mulai berikan jalan, saya ingin sungguh-sungguh, malam saya bangun, saya sholat, menghafal Quran, saya baca riwayat Quran,” jelasnya.

“Sampai puncaknya tibam saya ditugaskan pemerinath Indonesia saat itu untuk jadi petugas haji di Mekkah, saya telepon ibu saya, saya bilang ma saya InsyaAllah akan haji,” ujarnya.

Akhirnya Ustaz Adi Hidayat pun berhasil mengajak ibunya berangkat ke Mekkah. Ia menabung dan memberangkatkan haji ibunya.

“Jadi ketika anda pun belajar jadi ulama, Allah akan muliakan anda, orangtua anda akan dapat bagiannya, yang hafal Quran itu Musa, yang bisa haji bapak ibunya,” ungkapnya.

“Jadi ulama itu jangan sudah jadi bari bergerak pun Allah pasti akan jaga kalau benar caranya, satu pertanyaan tadi pilih mana orang sholeh atau ulama, jangan pisahkan, kalau ulama itu adalah tingkat tertinggi bagian dari orang sholeh,” jelasnya.

Sumber: Sripoku.com/ Lihat artikel asli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *