Adu Dalil Vaksin AstraZeneca, Kiai Asep: Istihalah dan Ihlak Tertangkal oleh Intifak

Mediadakwahislami.com—(Bangsaonline.com) Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, mengaku sangat mendukung vaksinasi yang sedang gencar dilakukan pemerintah. Tapi ia menolak penggunaan vaksin AstraZeneca. Ia bahkan minta pemerintah tidak mendistribusikan vaksin AstraZeneca pada pondok pesantren.

Alasannya, produksi vaksin asal Inggris itu diketahui melalui proses penggunaan tripsin babi. Ia sepakat dengan keputusan komisi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menghukumi Vaksin AstraZeneca haraman mubahan liddlarurat (haram tapi boleh digunakan karena darurat).

“Tapi kalau kondisinya sudah tak darurat tak boleh digunakan. Karena itu pemerintah harus mengupayakan vaksin yang halal,” kata Kiai Asep.

Menurut Kiai Asep, jika pemerintah terlanjur membeli vaksin AstraZeneca, distirbusikan saja pada masyarakat di Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT) serta daerah lain yang mayoritas non muslim yang tak mengharamkan babi.

Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto itu mengaku tak sejalan dengan Ketua MUI Jatim KH Hasan Mutawakkil Alallah yang menyatakan vaksin AstraZeneca halalan thayyiban. Menurut dia, fatwa itu tak benar karena hanya menggunakan dasar istihalah (perubahan bentuk) dan ihlak (penghancuran). Dalam pandangan MUI Jatim tripsin pangkreas babi dalam proses produksi vaksin AstraZeneca tidak najis karena sudah berubah bentuk.

Menurut Kiai Asep, dalam pandangan mereka istihalah disamakan dengan ihlak, tidak ada ninilai-nilai babinya. Tapi alasan itu tak kuat.  “Istihalah dan ihlak tertangkal oleh intifak,” tegas kiai ahli matematika dan ilmu pengetahuan alam itu. “Artinya, bisa menjadi vaksin karena ada tripsin pangkreas babinya,” kata Kiai Asep kepada wartawan di Guest House Institut KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto, Sabtu (28/3/2021) .

Menurut Kiai Asep, intifak itu tak bisa dihilangkan. “Buktinya apa? Jadi vaksin! Tanpa ada pankreas babinya tak akan jadi vaksin. Keharaman intifak, baru pada pemikiran saja sudah haram, apalagi sudah ada realisasinya,” tegas kiai yang fasih bahasa Inggris dan bahasa Arab itu.

Kiai Asep mengingatkan bahwa Imam Syafii dan Imam Hambali mengajarkan istihalah atau perubahan bentuk dari benda najis menjadi tidak najis hanya berlaku pada tiga hal. “Pertama, ketika arak berubah secara alami (tidak direkayasa manusia) menjadi cuka,” kata Kiai Asep.

Kedua, kulit yang diambil dari bagkai selain babi dan anjing dan ketiga, ayam yang menetas dari telur yang dikeluarkan dari ayam mati.

Menurut Kiai Asep, alasan istihalah sangat terbatas. Tak boleh diobral. “Ini sangat bahaya. Karena bisa jadi pintu masuk semua produk olahan babi dihalalkan dengan istihalah. Karena semua produk babi pasti dengan cara istihalah semua, tidak mungkin gelondongan langsung berupa babi,” kata Kiai Asep yang saat pilpres aktif menggalang para kiai untuk mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin serta kampanye hingga luar negeri.

Karena itu Kiai Asep melarang vaksin AstraZeneca disuntikkan pada para santrinya yang berjumlah sekitar 12 orang serta 1000 lebih guru di lingkungan Pondok Pesantren Amanatul Ummah.

Bahkan, menurut Kiai Asep, untuk Amanatul Ummah hukumnya bukan lagi haraman mubahan liddlarurah. “Kalau di Amanatul Ummah haraman mutlaqan. Haram mutlak karena disini tidak ada darurat. Sudah setahun lebih proses pembelajaran berjalan di Amanatul Ummah tapi tidak ada kasus santri yang terkena covid-19,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.

Lihat artikel asli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *