Mengapa Aminah Ibunda Nabi SAW Dimakamkan Jauh dari Beliau?

Mediadakwahislami.com—Berbeda dengan makam Nabi Muhammad SAW yang tidak pernah sepi dari peziarah dan terawat dengan sangat baik, makam ibunda Rasulullah, Sayyidah Aminah justru sangat jarang dikunjungi.

Makam Ibunda Rasulullah SAW berada di perkampungan terpencil di daerah Al-Abwa, 200 kilometer dari Jeddah, dan berada di atas bukit yang jauh dari pemukiman. Jika ingin berkunjung, peziarah perlu melewati gurun, jalan berpasir dan bebatuan, hingga sejumlah bukit bebatuan.

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul Sejarah Hidup Muhammad menggambarkan Al-Abwa sebagai sebuah kota tua yang berada di antara Makkah dan Madinah.

Adapun alasan Al-Abwa dijadikan lokasi pemakaman Aminah, karena saat Nabi Muhammad SAW berusia enam tahun, Sayyidah Aminah membawanya berhijrah ke Yastrib, kini menjadi Madinah, namun di tengah perjalanan, Aminah jatuh sakit.

Dia lalu memutuskan untuk singgah terlebih dahulu di suatu perkampungan yang terletak di antara Makkah dan Madinah, bernama Al-Abwa’, lalu meninggal disana. Ummu Aiman yang saat itu mendampingi Aminah dalam perjalanan, memutuskan memakamkan ibunda Rasulullah di Abwa, tempat Aminah menghembuskan nafas terakhirnya.

Pada masa hijrah, serangan terhadap dakwah Nabi Muhammad SAW dari kaum kafir Quraisy Makkah belum juga usai. Seusai kekalahan kaum Quraisy di Perang Badar, kaum kafir Quraisy mulai menggalang dukungan untuk menyerang kembali Rasulullah dalam perang yang dikenal dengan nama Uhud.

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul Sejarah Hidup Muhammad, menjelaskan etika pasukan Quraisy sampai di Abwa, yakni desa yang berjarak sekitar 37 kilometer dari tempat dimakamkannya ibunda Nabi, Aminah, beberapa orang dari mereka bermaksud keji. Yakni bermaksud untuk menggali kuburan Sayyidah Aminah sebagai pelepasan dendam terhadap Nabi Muhammad SAW. Namun untungnya saat itu ada yang melarang.

Larangan itu dilakukan untuk melakukan pencegahan agar jangan sampai menjadi kebiasaan baru yang berkembang pada suku-suku lain yang memang saling memiliki dendam akibat saling membunuh keluarga.

Lalu paman Nabi, Al-Abbas, yang ada di Makkah mengetahui rencana jahat ini. Beliau pun menyurati Nabi dan Nabi meminta Ubay bin Ka’ab untuk membacanya. Nabi kemudian menyampaikan isi surat tersebut kepada beberapa orang sahabat terdekat beliau dan meminta mereka merahasiakannya.

Kemudian Nabi mengutus beberapa orang dalam tahapan awal waktu yang berbeda. Hal itu dimaksudkan untuk mengkonfirmasi isi surat Al-Abbas yang ternyata benar. Bahkan pasukan kaum kafir Quraisy telah tiba di Madinah di dekat Uhud. Kedatangan mereka pun akhirnya sudah tidak lagi menjadi rahasia.

Maka, penjagaan cukup ketat dilakukan para sahabat-sahabat Nabi di sekitar Masjid Nabawi di mana rumah Nabi berada. Bahkan penjagaan diperluas sehingga mencakup tempat-tempat di mana dimungkinkan datangnya serangan.

Sebelum perang berkecamuk, sebelumnya Nabi pun diberikan peringatan oleh Allah melalui mimpi. Mimpi yang berupa wahyu terhadap Nabi ini adalah bentuk kebenaran. Diriwayatkan bahwa pada malam Jumat Nabi bermimpi melihat seekor sapi disembelih dan di ujung pedang beliau ada sedikit cacat/retak.

Terlihat juga dalam mimpi itu bahwa beliau menghunus pedang beliau lalu pegangan pedang terlepas dan menghunus sekali lagi. Dan kali itu pegangannya kembali utuh.

Dalam riwayat lain, Nabi SAW menafsirkan mimpi beliau bahwa sapi yang disembelih itu mengisyaratkan ada sahabat beliau yang gugur. Sedang ujung pedang seperti yang dilukiskan bermakna ada seseorang dari keluarga beliau yang gugur.

Sumber: Republika.co.id (Lihat artikel asli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *