Kisah Empat Orang Beda Keyakinan Tinggal dalam Satu Atap

Mediadakwahislami.com—(Ihram.co.id) Empat orang berbeda agama akan tinggal dalam satu atap demi sebuah penelitian. Mereka adalah Hadar Cohen (Yudaisme), Ala Khan (muslim), Maya Mansour (Baha’i) dan Jonathan Simcosky (kristen).

Dilansir dari Religion News, Jumat (15/1), mereka pindah hanya dalam beberapa pekan sebelum virus corona mewabah. Saat ini, mereka telah secara resmi menyelesaikan misi mereka pada Ahad (10/1). Mereka berbagi pengalaman dan pelajaran yang didapat selama tinggal bersama kawan dengan keyakinan yang berbeda.

Mereka tinggal di rumah yang disebut Rumah Abraham. Rumah tersebut didirikan oleh Mohammed Al Samawi, seorang pria Muslim dari Yaman. Ia mendirikan Rumah Abraham untuk menghilangkan teori konspirasi dan mengubahnya jadi tempat kerja sama antar agama demi menghilangkan misinformasi dan stereotip.

“Visinya untuk proyek ini adalah membuat orang-orang dari agama yang berbeda tidak hanya merayakan persamaan dan perbedaan mereka, tetapi juga berbicara tentang kebenaran, hanya kebenaran, bukan teori konspirasi, kata Al Samawi dilansir dari Religion News, Jumat (15/1).

Di dalam rumah Abraham, mereka akan menyesuaikan diri dengan aturan dan praktik keagamaan masing-masing.

“Kami telah diberi kesempatan untuk menunjukkan satu sama lain dalam solidaritas,” kata Mansour, dari agama Baha’i.

Mereka bercerita tentang kesulitan-kesulitan di awal, saat mereka berhadapan dengan perayaan Paskah, Ramadhan, Ridvan, dan Perayaan Baha’i di tengah karantina dan tanpa komunitas masing-masing.

Bagi Simcosky, editor buku yang beragama Kristen, dengan pengalaman di rumah abraham telah menjadi pembuka wawasan yang kuat. Begitu pula Cohen yang merasa kebersamaan dalam satu rumah telah memberi kesempatan untuk mengenal satu sama lain dan mempelajari apa yang penting.

Khan, seorang pembuat film yang beragama Islam mengatakan rekan-rekannya tidak hanya mempelajari konteks sejarah, tetapi juga bagaimana mereka terhubung dengan masing-masing agama dan praktik ibadahnya dan dan bagaimana hal itu tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

“Itu terasa sangat istimewa dan sangat penting karena tidak ada satu agama yang monolitik. Ada keragaman dalam agama,” kata Khan.

Sepanjang tahun, para peserta mengadakan lebih dari 30 program yang mencakup pemutaran film dokumenter melalui Zoom tentang hari doa binasional di perbatasan AS-Meksiko di San Diego dengan para pemimpin Muslim dan Kristen, acara feminisme multi-agama virtual untuk menghormati Shavuot, hari libur Yahudi yang merayakan kebijaksanaan, dengan begadang sepanjang malam untuk belajar, dan serial bincang-bincang artis online yang menampilkan wanita kulit berwarna dan bagaimana spiritualitas memengaruhi pekerjaan mereka.

Selain menjadi tuan rumah acara ini, tinggal serumah juga memungkinkan mereka untuk melakukan percakapan yang bernuansa tentang isu-isu yang ada di sekitar. Mereka mengatakan sering berbicara tentang cara terbaik menjaga keselamatan satu sama lain selama pandemi, seperti bagaimana orang kulit hitam untuk hidup melalui pergolakan sosial yang mereka alami, dan bagaimana orang Muslim dan Yahudi menghadapi Islamofobia dan anti-Semitisme. Ras dan agama dan penindasan agama adalah masalah umum yang kerap menjadi bahan diskusi.

Bagi Simcosky, menjadi sekutu bagi orang-orang yang berbeda agama dan ras harus menjadi ekspresi kepedulian yang autentik terhadap komunitas. “Itu datang melalui kedekatan dan melalui berbagi semua pengalaman ini, dan melalui keingintahuan untuk mempelajari apa yang menantang,” katanya.

Sedangkan menurut Khan, percakapan itu menjadi pengingat untuk tidak berasumsi dan hanya mendengarkan. “Kami harus benar-benar hadir dan benar-benar mendengarkan satu sama lain,” katanya.

Bagi Mansour, penting bahwa keyakinan Baha’i, yang biasanya tidak termasuk dalam karya lintas agama, menjadi bagian dari persekutuan. Itulah mengapa penting bagi Mansour untuk memperkuat suara dari agama lain yang tidak terwakili dalam persekutuan, seperti layanan tanpa pamrih dari komunitas Sikh, yang disorot oleh rekan-rekan melalui pemutaran film dokumenter.

Rumah Abraham membantu mereka menyadari pentingnya menjelaskan keyakinan agama mereka secara lebih terbuka dengan orang lain. Hal ini disadari oleh Cohen, yang mengaku menjadi sadar betapa dia dahulu telah menyembunyikan keyahudiannya karena khawatir ada banyak ketakutan, kebencian yang menyertainya.

Khan mengatakan Rumah Abraham membantu memperdalam hubungannya dengan keyakinannya sendiri. Sekarang, dia merasa lebih nyaman berbagi praktik keagamaannya dengan orang-orang di sekitarnya, yang sebagian besar bukan Muslim.

“Saya merasa seperti saya percaya diri tentang berbagi praktik yang lebih spesifik dengan orang lain,” ungkapnya.

Lihat artikel asli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *