Rumah Ibadah Satu Atap untuk Tiga Agama Dibangun di Berlin

Mediadakwahislami.com—(Republika.co.id) Sebuah tempat ibadah baru yang akan menyatukan umat Kristen, Yahudi, dan Muslim akan dibangun di Berlin, Jerman. Ketiga umat beragama tersebut akan memiliki tempat ibadah di bawah satu atap bangunan yang dibangun di situs sebuah gereja yang diruntuhkan oleh penguasa komunitas di Jerman Timur.

Pusat ibadah tersebut dijuluki churmosquagogue. Peletakan batu fondasi dari the House of One di BErlin itu akan dilakukan pada sebuah upacara pada 27 Mei 2021.

Upacara tersebut menandai akhir dari 10 tahun perencanaan dan awal dari pembangunan yang diperkirakan akan memakan waktu empat tahun. Pembangunan pusat ibadah itu melambangkan usaha baru dalam kerja sama dan dialog antaragama.

Bangunan senilai 47 juta euro itu dirancang oleh arsitek Berlin, Kuehn Malvezzi. Bangunan tersebut akan menggabungkan sebuah gereja, masjid, dan sinagoga yang terhubung ke ruang pertemuan pusat. Sementara itu, orang-orang dari agama dan denominasi lain dan mereka yang tidak beragama akan diundang ke acara dan diskusi di aula besar.

“Idenya sangat sederhana. Kami ingin membangun rumah untuk beribadah dan belajar, di mana ketiga agama ini dapat hidup berdampingan dengan tetap mempertahankan identitasnya masing-masing,” kata Roland Stolte, seorang teolog Kristen yang membantu memulai proyek tersebut, dilansir di The Guardian, Senin (22/2).

House of One akan dibangun di situs gereja St Peter di Petriplatz, yang rusak selama perang dunia kedua dan dihancurkan pada 1964 oleh otoritas Republik Demokratik Jerman (GDR). Ketika fondasi gereja ditemukan lebih dari satu dekade yang lalu, muncul pertimbangan untuk mendirikan sebuah tugu peringatan atau gereja baru di situs tersebut.

“Namun kami ingin menciptakan jenis bangunan suci baru yang mencerminkan Berlin hari ini. Pemrakarsa bertindak sebagai tempat penampung. Ini bukan klub untuk agama monoteistik, kami ingin yang lain bergabung dengan kami,” kata Stolte.

Seorang rabi yang mewujudkan visi tersebut menjadi kenyataan dalam kemitraan dengan seorang pendeta dan imam, Andreas Nachama mengatakan ada banyak cara berbeda menuju Tuhan. Ia menyebut bahwa masing-masing agama adalah jalan yang baik.

Di House of One itu, umat Kristen, Muslim dan Yahudi akan beribadah secara terpisah, tetapi akan saling mengunjungi untuk hari raya keagamaan, peringatan dan perayaan. “Itu lebih dari sekadar simbol. Ini adalah awal dari era baru di mana kami menunjukkan tidak ada kebencian di antara kami,” kata Nachama.

Pemerintah federal dan negara bagian Berlin diantaranya telah menyumbangkan 30 juta euro untuk biaya proyek tersebut. Sementara 9 juta euro lainnya berasal dari sumbangan dan penggalangan dana. Gerakan untuk kontribusi yang baru ini digulirkan pada Desember 2020 dan diharapkan mereka dapat mengisi kesenjangan hampir senilai 8 juta euro.

Stolte mengatakan, proyek ini umumnya didukung oleh komunitas agama dan publik. Meskipun dalam beberapa tahun pertama, ada beberapa kekhawatiran bahwa mereka bisa mencampurkan agama atau mencoba menciptakan agama baru.

Sementara itu, penyertaan dalam perencanaan dari orang-orang yang tidak beragama merupakan aspek yang sangat penting dari proyek House of One. Ia mengatakan, Berlin Timur adalah tempat yang sangat sekuler. Karena itu, lembaga keagamaan harus menemukan bahasa dan cara baru agar relevan, dan untuk membuat koneksi.

Lihat artikel asli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *