Setelah Xinjiang, China Larang Simbol Islam dan Batasi Aktivitas Muslim di Provinsi Hainan

Mediadakwahislami.com—(Islamkaffah) Perlakuan pemerintah China terhadap Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang masih terus menimbulkan tekanan dari dunia internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amerika Serikat, Inggris, dan kelompok HAM dunia menuduh China melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dengan memasukan jutaan Muslim Uighur ke dalam kamp penahanan.

Selain itu, China juga membatasi Muslim Uighur melaksanakan syariat Islam. China bahkan juga merobohkan banyak masjid di Xinjiang. Namun tuduhan itu dibantah pemerintah Beijing. China berdalih penanganan Muslim Uighur itu sebagai bagian dalam memerangi ekstremisme dan terorisme.

Belum selesai masalah Muslim Uighur di Xinjiang, China kembali melakukan kebijakan yang sama dengan melarang simbol-simbol keagamaan Islam serta membatasi aktivitas muslim kota Sanya, Provinsi Hainan. Dua sekolah Islam ditutup di wilayah yang sudah dihuni muslim sejak hampir 1.000 tahun itu. Para siswi perempuan juga dilarang mengenakan jilbab, namun aturan itu tak diindahkan.

Meski demikian azan masih diperbolehkan berkumandang dari menara-menara masjid. Tindakan lain adalah menghapus tulisan ‘Halal’ pada menu restoran. Kaligrafi bertulis Allahu Akbar yang biasa ditemukan di dinding rumah-rumah maupun toko harus dicabut dan diganti dengan ‘Impian China’, slogan resmi pemerintah.

Utsul, komunitas di Sanya berpenduduk kurang dari 10.000 muslim, termasuk menjadi target kampanye Partai Komunis dalam melawan pengaruh serta agama asing. Seorang tokoh agama Islam Utsul yang meminta namanya tak dipublikasikan, dikutip dari The New York Times, mengatakan, kebijakan ini bertolak belakang dengan beberapa tahun lalu. Pejabat pemerintah saat itu berkomitmen mendukung identitas Islam serta membolehkan mereka berhubungan dengan negara muslim lainnya.

Partai Komunis berdalih pembatasan terhadap simbol-simbol Islam serta komunitas muslim bertujuan mengekang ekstremisme.

Alasan serupa digunakan pemerintah China untuk melakukan kekerasan terhadap muslim Uighur di Xinjiang. Ma Haiyun, asisten profesor di Frostburg State University, Maryland, Amerika Serikat, yang mempelajari Islam di China, mengatakan, pengetatan di Utsul mengungkapkan wajah asli komunis China terhadap komunitas lokal.

“Ini tentang mencoba memperkuat kontrol negara. Ini murni anti-Islam,” kata Ma.

Pemerintah China berulang kali tindakan mereka menentang Islam. Namun di bawah kendali Xi Jinping, Partai Komunis semakin keras melarang akivitas dan simbol Islam. Tindakan keras Komunis sangat kentara terhadap etnis Uighur, banyak dari mereka ditahan di kamp-kamp dan dipaksa melakukan aktivitas yang bertentangan dengan syariat agama, seperti dipaksa mengonsumsi daging babi, dilarang salat, puasa, dan sebagainya.

Lihat artikel asli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *