Mengenal Kiai Abu Bakar, Santri KH Hasyim Asy’ari yang Saat Ini Masih Sehat

Mediadakwahislami.com—(TimesIndonesia.co.id) Sosok Kiai Abu Bakar adalah saksi hidup santri Hadratus Syech KH Hasyim Asy’ari, pahlawan Nasional yang juga salah satu pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama (NU).

Belum banyak yang tahu jika Kiai Abu Bakar merupakan salah satu dari santri dari KH Hasyim Asy’ari yang hingga kini masih hidup dengan kondisi yang sangat sehat. Pria kelahiran tahun 1935 ini masih sering mengajar dan mengaji dengan penuh semangat untuk tetap mensyiarkan agama Islam sesuai gaya mengajar Mbah Hasyim.

Meski usianya sudah tak lagi muda, serta intonasi suaranya memulai memudar dan kulit yang sudah keriput, kakek ini masih kuat untuk berjalan ke masjid dan mengaji kitab serta membaca Al-Quran.

Pria berusia 85 tahun ini merupakan santri KH Hasyim Asy’ari angkatan tahun 1944. Ia menjadi santri Pesantren Tebuireng Jombang selama 8 tahun. Ia saat itu bukan termasuk santri mukim, melainkan santri kalong. Artinya dalam proses menyantri atau menimba ilmu di Ponpes Tebuireng dengan pulang pergi dari rumah ke Ponpes.

Karena zaman dulu belum ada kendaraan, bahkan satu desa hanya satu yang mempunyai sepeda ontel, dalam proses nyantri ia menempuh perjalanan dengan jalan kaki sejauh 5,1 Km dari rumahnya di Desa Bandung, Diwek.

Namun, sayang, Kiai Abu Bakar hanya menjadi saksi hidup KH Hasyim Asy’ari selama 3 tahun. Sebab setelah itu Mbah Hasyim wafat pada 1947. Saat itu ia masih berusia 12 tahun, sehingga ingatan tentang KH Hasyim Asy’ari masih sedikit.

Ia juga merupakan santri yang takdim kepada Mbah Hasyim. Karena masih kecil ketika ia membuat kesalahan hanya diingatkan dengan dicolek oleh Mbah Hasyim. Sampai saat ini ia terkenal sebagai sosok kiai desa dengan kesabaran ketabahannya dalam mengatasi suatu permasalahan.

Karomah KH Hasyim Asy’ari Melawan Penjajah

Selain sebagai seorang pendakwah KH Hasyim Asy’ari merupakan pahlawan Nasional yang tidak dapat diragukan lagi kemampuan dan kontribusinya saat melawan serta mengusir penjajah di bumi Nusantara ini.

Beliau mengajak para santrinya untuk berjuang melawan penjajah. Menurut Mbah Hasyim, berjuang melawan penjajah hukumnya fardlu ‘ain, wajib bagi setiap kaum muslimin Indonesia.

“Kalau malam itu, Mbah Hasyim turut melatih tentara perang untuk melawan penjajah. Kalau pagi selalu mengamalkan shalat entah shalat dhuha atau apa saya tidak tau. Tapi tidak tau kenapa tentara didikan Mbah Hasyim sakti-sakti,” jelas Kiai Abu Bakar kepada TIMES Indonesia. Jumat (19/2/2021).

Menurutnya, banyak amalan-amalan yang dikerjakan Mbah Hasyim. “Namun waktu itu saya masih kecil yang saya inget hanya perilakunya beliau yang sabar, ikhlas dan sangat istiqomah dalam menjalankan sesuatu,” tambahnya.

Ia juga mengatakan, KH Hasyim Asy’ari sering melawan para penjajah yang tidak bisa dilogikakan oleh para santrinya. Ilmu batinnya sangat hebat ketika peperangan melawan penjajah.

Pesan KH Hasyim Asy’ari yang Diingat Kiai Abu Bakar Saat Masih Nyantri

Suatu hari dalam perjalanan Kiai Abu Bakar menimba ilmu di Ponpes Tebuireng, melewati sebuah desa yang terdapat tempat pelacuran. Kemudian ia merenung bahwa suatu saat ia ingin memusnahkan tempat tersebut.

“Waktu itu saya mendengar pidato Mbah Hasyim ‘Ono jeding resik, mesti ono peceren ne‘ (Ada Kamar mandi bersih, pasti ada tempat pembuangan yang kotor),” ujarnya.

Kemudian ia menyimpulkan sendiri bahwa sesuatu di dunia itu ada sisi baik dan sisi buruknya kita harus bisa memilahnya. “Seperti halnya di desa situ yang ada tempat baik dan di Tebuireng ada tempat baik dan saya memilih untuk belajar di Tebuireng,” jelasnya.

Perbedaan Mencari Ilmu Pada Zaman Dulu dan Sekarang

Pada saat proses menjadi santri Kiai Abu Bakar telah melalui pahit manisnya mencari ilmu. Mulai jalan kaki, belajar harus sembunyi-sembunyi serta peralatan yang tidak memadai.

Ia juga menyayangkan jika generasi sekarang sudah banyak yang hilang etikanya. Banyak anak muda yang menyepelekan ilmu agama. Menurutnya, pemuda zaman sekarang kurang berjuang dalam menghadapi perubahan.

“Karena banyaknya keterikatan nafsu terhadap hubungan (pacaran) yang menghambat perkembangannya. Sehingga kurangnya pengetahuan untuk mempersiapkan kehidupan akhiratnya,” tutup Kiai Abu Bakar, santri KH Hasyim Asy’ari yang masih hidup saat ini.

Lihat artikel asli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *