Dianggap Musuh Polisi, Novel Baswedan Sebut Sosok Kapolri Patut Dicontoh

Mediadakwahisalmi.com—(SuaraLampung.id) Penyidik senior Novel Baswedan berbicara tentang institusi lamanya Polri. Novel Baswedan adalah mantan anggota Polri. Meninggalkan Polri, Novel kini berkhidmat di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menjadi penyidik di KPK, Novel Baswedan pernah beberapa kali mengusut kasus korupsi di lingkungan Polri. Kasus itu melibatkan orang-orang penting di Polri.

Sejak itu ada anggapan Novel Baswedan memusuhi Polri dan ia juga dimusuhi polisi. “Kalo saya dibilang dimusuhi polisi ga juga, saya memusuhi polisi ga juga,” kata Novel Baswedan di YouTube Haris Azhar berjudul “SAYA MUSUHI POLISI?! GA JUGA…!! – NgeHAMtam BARENG NOVEL BASWEDAN –“.

Namun kata Novel, di institusi Polri ada oknum-oknum yang mencari keuntungan dengan cara apapun hingga membuat kewenangannya diperjualbelikan. “Pasti dong ketika ada petugas anti korupsi yang sedang mau melakukan tindakan pasti mereka ga suka,” kata Novel Baswedan.

Sama halnya kata Novel, polisi yang tidak disukai maling. Menurutnya, kalau ada polisi yang ingin dicintai maling itu adalah kesalahan. “Kalo dia bekerja bener pasti dimusuhi. Ketika kerja dengan konsep begitu. Kita dihadapkan pilihan. Mau berbuat baik atau berbuat jahat. Kalo berbuat baik pasti dimusuhi orang jahat, kalo berbuat jahat pasti tidak disukai orang baik,” terang Novel.

Bagi Novel banyak polisi baik terutama di daerah. Novel yang pernah bertugas di daerah terpencil saat masih menjadi polisi melihat sendiri anggota-anggota polisi yang bekerja dengan benar dengan tulus.

“Kalo dibilang kebaikannnya apa? Banyak. Banyak polisi di daerah-daerah itu yang mau sampai menolong masyarakat. Bahkan ikut dalam kegiatan pendidikan mengajari anak-anak membaca. Itu luar biasa,” katanya.

Mengenai cara memperbaiki polisi menurut Novel harus ada pembagian antara polisi yang bertugas independen dengan polisi yang bekerja secara terbuka.

“Bagi saya yang paling utama itu polisi itu kan ada yang independen dan ada yang di bawah pemerintah dalam hal ini adalah polisi berseragam. Tapi dalam hal penegakan hukum dia independen. Di banyak negara itu dibatasi, dipisah ketika itu dilakukan itu bisa menjadi perbaikan,” ucapnya.

Novel Baswedan lalu menyebut keberhasilan Polri di era kepemimpinan Kaapolri Jenderal Sutanto. Di tahun 2004, Sutanto membuat gebrakan pemberantasan judi. 

Menjadi penyidik di KPK, Novel Baswedan pernah beberapa kali mengusut kasus korupsi di lingkungan Polri.

Pada saat itu kata Novel, banyak orang tidak percaya dengan gebrakan memberantas judi yang digelorakan Sutanto. Nyatanya, Sutanto berhasil. “Ketika Pak tanto membuat kebijakan dengan tegas memperbaiki itu, luar biasa. Dampaknya besar sekali,” ujar Novel.

“Dulu saya paham betul saya melihat sendiri orang-orang yang bekerja di ekonomi lemah, pekerja kasar. Dia dapat penghasilan harian, sore dia ikut permainan judi. Duitnya abis ga bawa apa-apa pulang ribut sama keluarganya. Tapi ketika itu dibuat (gebrakan berantas judi), luar biasa. Hal-hal demikian mestinya jadi contoh,” sambung Novel. 

Mengenai kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Novel Baswedan mengaku tahu betul dengan sosok Listyo yang merupakan senior Novel di Akpol.

“Saya tahu betul dia senior saya. Saya tahu betul beliau adalah orang yang baik. Secara pribadi beliau orang baik. Banyak hal yang menjadi problematika untuk orang bisa berbuat baik selain dari keberanian tapi mesti ada hitung-hitungannya juga. Kita harus memberikan dukungan dan kesempatan semoga dari waktu yang ada beliau bisa mengambil langkah-langkah untuk melakukan perbaikan,” ujarnya.

Lihat artikel asli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *