Sifat Malu yang Sebenarnya, Yuk Baca Penjelasannya!

Mediadakwahislami.com—(Kalam.Sidonews.com) Salah satu ciri kemuliaan perempuan terletak pada sifat malu yang menebal dalam dirinya. Apa itu malu? Sifat malu adalah sifat yang membuatkan seseorang merasa tidak mau menonjolkan diri dalam kalangan masyarakat.

Dalam sebuah hadis, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Terdapat 99 bagian tarikan pada wanita berbanding lelaki, lalu Allah kurniakan ke atas mereka sifat malu.” (HR Baihaqi).

Sebagai perempuan yang fitrahnya tercipta sebagai makhluk terindah di dunia ini, kemudian Allah mengkaruniakan hidayah padanya maka inilah hal yang paling indah dalam hidup. Namun sayang, sebagian dari perempuan banyak yang tidak menyadari betapa berharga dirinya. Sehingga banyak dari mereka justru merendahkan dirinya dengan menanggalkan rasa dan sifat malu ini.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah)

Sabda Rasullullah yang lain, bersabda; “Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lain pun akan terangkat.”(HR. Al Hakim)

Begitu jelas Rasulullah SAW memberikan teladan bahwasanya rasa malu adalah identitas akhlak Islam . Bahkan rasa malu tak terlepas dari iman dan sebaliknya. Terkhusus bagi seorang muslimah, rasa malu adalah mahkota kemuliaan bagi dirinya. Rasa malu yang ada pada dirinya adalah hal yang membuat dirinya terhormat dan dimuliakan. Ketika para perempuan menyadari fitrahnya, maka dia akan paham bahwasanya rasa malu itu pun menjadi hak baginya.

Namun sayang, di zaman ini rasa malu pada perempuan ini telah banyak yang pudar, sehingga hakikat penciptaan wanita—yang seharusnya—menjadi perhiasan dunia dengan kesalehaannya, menjadi tak lagi bermakna. Sebab hilangnya rasa malu inilah yang menyebabkan banyaknya perempuan yang menghias dirinya dengan berlebihan ketika keluar rumah, dan menyebabkan berbagai penyakit sosial karenanya.

Menempatkan Malu pada Tempatnya

Sifat malu ini, sebenarnya bukan membuat perempuan tidak boleh keluar rumah untuk menuntut ilmu dan berdakwah. Inilah yang disebutkan, menempatkan malu pada tempatnya yang benar. Malu seorang perempuan tidak menghalangi ia dan harus terperangkap di dalam rumah, tanpa mengetahui keadaan dunia luar dan isu-isu global di lingkungannya. Lantas dikatakan, perempuan yang punya sifat malu menjadi wanita bodoh karena hanya di rumah terus.

Ada banyak bukti perempuan-perempuan hebat, dengan sifat malunya tetap berkarya dan menjadi perempuan cerdas serta berperan aktif di masyarakat. Bukti-bukti itu, antara lain:

1. Bukti pertama datang dari Ummul Mukiminin yang pertama, Siti Khadijah rhadiyallahu’anha. Khadijah seorang peniaga yang kaya-raya. Mana mungkin Sayidina Khadijah menjadi kaya tanpa beliau keluar untuk berdagang. Tetapi dengan diiringi perasaan malu untuk menjaga setiap tindak-tanduknya.

2. Bukti kedua adalah Aisyah radhiyallahu’anha. Beliau adalah satu-satunya wanita yang paling banyak meriwayatkan hadis Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Terkenal dengan kecerdasannya sehingga lebih dari seperempat perundangan Islam dikeluarkan oleh Aisyah.

Menjadi sumber rujukan sahabat ketika itu dan sehingga kini. Mana mungkin Aisyah radhiyallahu’anha menjadi wanita yang sebegitu bijak tanpa beliau keluar dari rumah untuk menuntut ilmu.

Perempuan dengan diiringi perasaan malu yang selayaknya tidak menghalang diri mereka untuk menjadi cemerlang dalam ilmu. Perempuan juga mempunyai kewajipan yang sama seperti lelaki untuk berdakwah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

“Dan orang-orang yang beriman lelaki-lelaki dan perempuan-perempuan, sebahagian mereka menjadi penolong kepada sebahagian yang lain. Mereka menyuruh berbuat baik dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan solat, menunaikan zakat dan taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS At-Taubah: 71)

3. Bukti bukti lain diperlihatkan oleh para shahabiyah (sahabat perempuan Rasulullah). Kita lihat bagaiamana beraninya Nusaibah rhadiyallahu’anha berjihad menentang musuh, Rufaidah al-Aslamiyah merawat orang lelaki yang cedera dalam peperangan, Asma’ binti Abu Bakar yang menghantar makanan pada Nabi dan ayahnya dalam peristiwa hijrah, Khaulah yang menegur Khalifah Umar di khalayak ramai adalah sebagian daripada contoh shahabiyah yang keluar berjihad di jalan Allah Ta’ala. Mana mungkin semua contoh ini dapat kita dengar andai mereka tidak meletakkan sifat malu itu pada tempatnya!

Wallahu A’lam Bishowwab

Lihat artikel asli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *