MasyaAllah, Pria Ini Beri Mahar Ular Piton Pada Pasangannya! Lantas Bagaimana Hukumnya, Bolehkah?

Mediadakwahislami.com—(Islamkaffah.id) Adalah Sigit Setiawan yang memberikan mahar berupa ular piton kepada istrinya Tiara Puspita sesaat setelah mengucapkan ijab qabul. Pernikahan yang berlangsung di KUA Sukaraja, Bogor tersebut viral di media massa sebab mahar yang tidak lazim.

Fenomena ini menarik untuk ditelisik lebih jauh tentang legalitas fikihnya. Sebab ada syarat-syarat mahar yang harus dipenuhi. Artinya, tidak semua barang bisa dijadikan mahar.

Namun sebelum membahas lebih jauh tentang keabsahan ular piton sebagai mahar, lebih dulu harus mengetahui status ular piton dalam pandangan hukum Islam.

Dari Aisyah, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Lima binatang pengganggu yang boleh dibunuh di tanah halal maupun di tanah haram: Ular, gagak abqa’, tikus, anjing galak, dan elang”. (HR. Muslim).

Ibnu Hajar al Haitami dalam Tuhfatu al Muhtaj fi Syarhi al Minhaj menjelaskan, haram mengurung lima binatang pengganggu untuk dirawat. Pendapat ini senada dengan pendapat Ibnu Qudamah dalam al Mughni yang membuat satu kaidah ‘Binatang yang wajib dibunuh, haram untuk dipelihara.

Sekarang kita lihat apa saja syarat-syarat mahar?

Syaikh Abdurrahman al Juzairy dalam karyanya Al Fiqh ‘ala Madzahib al Arba’ah menulis lengkap syarat-syarat mahar.

Pertama, mahar harus berbentuk harta yang berharga. Tidak sah mahar semisal sebutir beras karena tidak memiliki nilai. Batas maksimal mahar tidak ditentukan. Boleh berapa saja. Sedangkan untuk jumlah minimal mahar sunnah tidak kurang dari sepuluh dirham berdasar pada hadis riwayat Jabir.

Kedua, harta yang dijadikan mahar harus suci dan memiliki nilai manfaat. Maka tidak sah mahar berupa khamar, babi, darah bangkai dan lain-lain sebab tidak ada manfaatnya menurut penilaian syariat Islam, bukan penilaian manusia. Menurut penilaian syariat Islam semua jenis benda yang tidak boleh dimiliki seorang muslim tidak boleh dijadikan mahar. Sedangkan menurut penilaian manusia kulit bangkai, misalnya, ada manfaatnya. Namun ini tidak berlaku sebab yang dipandang adalah penilaian syariat Islam.

Ketiga, mahar tidak boleh berupa harta hasil ghasab (milik orang lain yang diambil secara paksa).

Keempat, mahar harus berupa harta yang jelas dan diketahui. Bukan harta yang yang tidak jelas keberadaan atau bentuknya (majhul).

Sampai disini sudah jelas, bahwa mahar berupa ular piton tidak memenuhi kriteria persyaratan yang telah disebutkan di atas. Yakni, syarat pada nomor dua yang menyatakan mahar harus benda suci dan memiliki nilai manfaat menurut penilaian syariat.

Lalu bagaimana status perkawinannya?

Dalam kitab yang sama, Syaikh Abdurrahman al Juzairy menulis, mahar berupa barang haram atau najis, seperti khamer, babi, dan lain-lain maka akadnya fasid atau rusak. Jika mahar tersebut berasal dari barang yang di ghasab, maka jika suami dan istri tahu akan hal itu maka akadnya rusak (fasid) dan terjadi fasakh sebelum terjadi jima’. Akan tetapi bila hanya suami yang tahu mahar tersebut hasil ghasab, sementara istrinya tidak tahu, maka akad nikahnya sah.

Lihat artikel asli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *