UAS Ceritakan Pengalamannya Saat Kuliah Di Cairo, “Soup Tulang Makan Tulang”

Mediadakwahislami.com—Mengutip postingan yang diunggah aku Instagram @ustadzabdulsomad_official, Ustadz Abdul Somad (UAS) menceritakan pengalamanya saat di Mesir dengan seniornya yang baru-baru ini beliau temui. Berikut kisahnya.

“Sulhan ribut dengan timur”, kata senior. Aku terkejut, tapi dia tersenyum. Ternyata mereka satu rumah. Bang Sulhan Batubara, Bang Ribut Batubara dan Bang Timur Batubara. Awal-awal aku sampai di bumi seribu menara, mereka termasuk senior-senior yang baik. Betul kata orang Melayu:
Tinggi sarang burung Tempua, Bukan senang untuk dipikat.
Walau lama tidak bersua, Kenangan baik tetap diingat.

Pernah suatu ketika, jam menunjukkan pukul satu malam, kami masih menunggu Eltramco di terminal Ramses Cairo. Tak ada yang kami khawatirkan, karena kami memang hanya membawa kresek-kresek plastik berisi beras, minyak goreng dan macrona bantuan orang Mesir yang baru kami dapat dari Hay-Sadis. Bang Sulhan selalu memberi nasihat, bagaimana mesti bersikap, cara belajar dan yang paling penting, cara hidup di negeri orang. Tapi caranya lembut, tak menggurui dan tak pula membuat sakit hati.

Bang Sulhan pandai memasak. Suatu ketika, Bang Sulhan mau masak soup tulang. Judulnya, tulang makan tulang. Dia minta aku ke pasar beli daun seledri. Tak tau apa bahasa Arabnya daun seledri. Jurus anak baru kalau belanja, tunjuk-tunjuk aja. Aku tunjuk daun hijau segar seperti seledri. Sampai di rumah. “Ini daun kuzbur (ketumbar)”, kata Bang Sulhan. Bentuknya sama. Tapi tak ada aroma. “Daun seledri tu bahasa Arabnya كرفس”, tambah Bang Sulhan.

Walau ia tujuh tahun di psantren Musthafawiyah Purba Mandailing Natal. Tapi dia tak pernah merasa lebih dari kami. Kami bisa merasakan dari sikap dan cara bicaranya. Komunikasinya baik, banyak orang terkesan dengan kata-katanya. Semester itu kami dapat lima puluh Pound bantuan untuk beli muqarrar (diktat). Bantuan dari Professor Doktor Syaikh Jaudah Mahdi, dekan Fakultas al-Qur’an, tempat orang belajar Qira’at. Sekaligus mursyid Thariqah Naqsyabandiyah. Aku tanya, “Bagaimana kita bisa dapat bantuan dari Syaikh Bang?”. “Anak beliau teman saya”, jawab Bang Sulhan.

Bang Sulhan suka jalan-jalan. Suatu ketika ia mengajak saya ke kampung Kafru-Syai. Setelah sampai, kami berjalan kaki, kami melewati sawah dengan pemandangan padi yang sedang menguning. Terasa indah, seperti di Indonesia. Kami pun sampai di rumah yang dituju. Rumah Syaikh Sarwaidi. Beliau da’i al-Azhar yang pernah mengajar di psantren Musthafawiyah Purba. Hiruk pikuk canda tawa Bang Sulhan melepas kerinduan. “Sada, dua, tolu”, kata Syaikh Sarwaidi. Ia masih ingat bahasa Mandailing. Syaikh Sarwaidi menyuguhkan makan malam. Nasi minyak khas mesir dengan syurbah soup daging. Saat akan pulang, Syaikh Sarwaidi membekali kami beras hasil kebunnya, karena beliau baru panen padi.

1997 ke tahun 2000 memang tahun-tahun sulit. Indonesia dan beberapa negara lain diserang krisis Moneter. Mahasiswa Indonesia hampir dipulangkan. Tapi orang Mesir berjanji, jangan ada satu pun anak Indonesia yang pulang karena masalah ekonomi. Suatu malam, Bang Sulhan memberikan maklumat, “Selesai Maghrib, kita ke suatu tempat. Siapkan iuran untuk ongkos taksi”.

Setelah berjamaah di masjid, kami pun menuju lokasi. Sesampainya di tempat tersebut. Kami diberikan nasihat pentingnya menuntut ilmu dan sebagainya dan seterusnya. Di akhir majlis, masing-masing kami diminta maju. Diberi satu bungkusan. Satu orang mendapat satu kilogram kurma. Kami pulang jalan kaki. Tak satu pun berkata-kata. Semua diam. Terutama Bang Sulhan.

Tahun 2002 kami berpisah. Aku dengar kabar Bang Sulhan mengajar di Daar al-Uluum. Aku juga dapat berita beliau S2 di Universiti Kebangsaan Malaysia. Terakhir berembus kabar beliau jadi anggota DPRD Asahan. Tiba-tiba saja Bang Sulhan datang ke rumah Uwak (kakak ibu), tempat aku menginap. Tak ada yang berubah dari Bang Sulhan. Masih seperti dulu. Tetap hangat dan bersahaja. “Lapar tak bisa ditunda Bang. Segera gerakkan infaq beras. Abang ada kekuasaan”, itu ucapanku terakhir. Aku tak segan dan tak sungkan menyampaikannya. Karena aku kenal baik dan aku yakin kebersamaan kami karena Allah,” tulis UAS pada akun tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *