UAS Ditanya, Bolehkah Anak yang Belum Baligh Jadi Imam Shalat Ibunya di Rumah? Ini Jawaban Beliau!

Mediadakwahislami.com—Ustadz Abdul Somad (UAS) ditanya “Bolehkah Anak laki-laki yang belum baligh menjadi imam bagi ibunya di rumah?” UAS pun menjawab pertanyaan tersebut dengan menukil sebuah hadits.

“Ibu ingin shalat berjamaah dirumah dengan anak yang belum baligh, boleh. Anak belum baigh jadi imam, dia sudah berkhitan (sunat), hadits shahih Bukhari tentang imam umur tujuh tahun. Imam kecil, tapi dimsa itu dia sudah berkhitan, sudah tak ada lagi najis. Dan bacaanya pula baik, tajwid, idzgham, ikhfa’, qolqolah, ghunnah, bila ghunnah, baik. Sampai-sampai, mafa-maaf, beribu maaf. Rupanya bila imam kecil itu tadi rukuk, terbuka bajunya dibelakang. Lalu kemudian kata sahabat dibelakang, tak adakah kain untuk menutup belakang imam kita ini? Memang dia kecil, tapi hafalannya banyak. Oleh sebab itu maka, ibu yang di rumah boleh shalat bersama anak. Atau sesama perempuan, shalat berjamaah di rumah,” jawab UAS.

Kemudian UAS memberikan penjelasan bagaimana tuntunan jikalau para Muslimah ingin shalat berjamaah di masjid. “Bagaimana kalau kami yang perempuan ingin ke di masjid? Ada yang mengatakan perempuan shalat di rumah, sebab perempuan yang shalat di dalam kamar, lebih baik lagi yang lebih kecil, semakin kecil semakin terpelihara lebih baik. Haditsnya shahih, tapi tengok juga hadits yang lain. Nabi kalau meluruskan shaff, kata Nabi “sebaik-baik shaff lelaki didepan, sebaik-baik shaff perempuan dibelakang.

Apa makna sabda Nabi? Shaff lelaki didepan, shaff perempuan dibelakang, maknanya ada perempuan dibelakang. Kalau taka da perempuan dibelakang pasti kata Nabi, sebaik-baik shaff lelaki didepan, yang perempuan pergi balek- pergi balek…

Makanya sampai hari ini, pintu mauk Masjid Nabawi, Baabussalam, keluar dari Baabus salam, Baabuul baqi’, dibelakang babul baqi’, babul Jibril, dibelakang babul Jibril, baabun nisa’. Baabun nisa’ ni bukan sekarang (baru dibuat), Baabun nisa’ sudah ada semasa Umar bin Khattab, zaman Umar bin Khattab bila ada lelaki masuk dari baabun nisa’, ditangkap, dicambuk, sebab dia sudah ikhtilat, bercampur dengan perempuan. Maknanya apa? Ada perempuan shalat, tapi tetap menjaga… menutup aurat.

Menutup aurat, tidak tabarruj, tidak bersuara dengan suara, kadang dibeberapa masjid tempat wanita ni ditutup dengan kain. Tutup sampai tak nampak, tapi suara dia kendengar. Kadang kita pulak takut. Masuk kita ke masjid, kikikikiki…. (Canda UAS)

Tetaplah jaga suara, jangan bergurau dalam masjid, menjaga ibadah. Maka perempuan shalat berjamaah di masjid, boleh, dengan syarat-syarat yang ketat. Wallahu A’lam,” pungkas UAS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *