Mana yang Lebih Baik, Suami Berjamaah Dengan Istri di Rumah Atau di Masjid? Berikut Penjelasan UAS

Mediadakwahislami.com—Ustadz Abdul Somad (UAS) ditanya seorang jamaah mengenai salah satu hukum fikih dalam shalat. Berikut pertanyaannya. “Benarkah jika seorang suami shalat dirumah menjadi imam bagi istri dan anak-anaknya, nilai pahalanya hanya dapat satu. Satu untuk suami, satu untuk istri, dan satu pula untuk anak, dibandingkan ketika suami yang shalat di masjid yang nilai pahalanya 27? Mohon pencerahannya.. tanya jamaah tersebut.

UAS pun menjawab dengan menukil firman Allah Ta’ala didalam Al-Qur’an Surat Ali Imron Ayat 32.

Qul, katakanlah wahai Muhammad, in kuntum tuhibbunallaha, kalau kamu memang cinta kepada Allah, fattabi’unii, ikuti aku (Nabi Muhammad). Satu-satunya jalan kesalamatan adalah mengikuti Nabi Muhammad Shalallau alaihi wa sallam. Haditsnya, Alaikum Bisunnati, ikuti sunnahku (Nabi Muhammad), Wa sunnati khulafa’ Ir raasyidina al mahdiyyina min ba’di, sunnah Khulafa’ur Rasyidin setelahku, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, wa’an kulli shahabati Rasulillahi ajma’in, ‘addhu alaiha bin nawajiz, gigit pakai gigi geraham (pertahankan kuat-kuat).

Meninggal Nabi Muhammad Shalallahu alai wasallam, Abu Bakar jadi imam, meninggal Abu Bakar, Umar jadi imam, Umar meninggal, Ali jadi imam, Ali meninggal, Utsman jadi imam. Dimana mereka shalat berjamaah? Di masjid…

Tapi saya pernah mendengar Nabi shalat di rumah, betul. Shahih. Nabi shalat malam…. Makmumnya siapa? Anas bin Malik. Anas bin Malik diserahkan ibunya bernama Ummu Sulaim, umur dia 10 tahun, Anas bin Malik membawakkan terompah Nabi, membawakkan air wudhu, membawakkan kain Nabi, serumah dengan Nabi. Shalat dia disamping Nabi, shalat pula istri Nabi di belakang. Itu menunjukkan Nabi pernah shalat berjamaah di bilik, di rumah, tapi shalat sunnah. Bukan shalat wajib, Adapun shalat fardhu di masjid.

Maka, lelaki, suami, shalat di masjid. Suami yang shalat di masjid, suami yang sholeh. Suami yang shalat di rumah suami sholehah…” tutur UAS ditambahi guyonan yang khas. Wallahu A’lam Bishowab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *