Khawatir Terlahir Bermasalah, Bolehkah Melakukan Ab0rsl, Bagaimana Hukumnya? Lihat Penjelasan Berikut!

Mediadakwahislami.com—Seorang ibu Muslimah bertanya kepada situs Muslimah.or.id terkait tentang kehamilan. Berikut pertanyaannya.

“Sewaktu hamil, saya minum obat tertentu yang ternyata ia berbahaya dan tidak boleh dikonsumsi ibu hamil. Kemudian diketahui dengan pasti bahwa obat itu mengakibatkan cacat pada janin saya. Tatkala saya dan suami memeriksakan diri ke dokter, dokter berkesimpulan bahwa jalan terbaik adalah menggugurkan janin, sebab kehamilan ini beresiko. Berdasarkan pernyataan dokter tersebut, saya pun menggugurkan kandungan saya. Ketika itu, usia janin 1 bulan 10 hari. Bagaimana syariat Islam memandang masalah ini? mohon beri kami petunjuk. Jazakumullahu khairan,” tanya ibu tersebut.

Dikutip dari laman Muslimah.or.id, dalam syariat Islam ada perincian mengenai  masalah pengguguran janin atau aborsi, yaitu sebagai berikut:
Pertama: Jika janin masih pada tahap 40 hari pertama, maka perkaranya lebih mudah. Meskipun demikian, tetap saja si ibu tidak patut menggugurkannya tanpa sebab syar’i. Akan tetapi, apabila maslahat syariat menuntut janin digugurkan karena membahayakan kesehatan ibu, atau dengan sebab yang ditetapkan tim dokter ahli bahwa janinnya cacat lantaran kesalahan yang tidak disengaja oleh ibunya, maka tidak mengapa aborsi dilakukan.

Kedua: Adapun pada fase kedua atau ketiga, yakni 40 hari kedua atau ketiga (120 hari), maka tidak boleh. Perkaranya tidak semudah tadi, karena perkiraan manusia terkadang salah; termasuk apa yang diperkirakan dokter. Alhasil, cacat pada janin yang diprediksi tidak terbukti. Maka hukumnya haram menggugurkan janin, kecuali ada resiko terkait keselamatan jiwa si ibu.

Ketiga: Diusia kehamilan lebih dari 120 hari ini adalah fase ditiupkannya roh , maka hukumnya lebih haram, sebab saat itu janin telah menjadi manusia. Tidak halal bagi kita untuk membunuhnya. Akan tetapi, jika didapatkan keadaan yang mengancam jiwa sang ibu, dengan diagnosis dokter spesialis, maka jika mungkin dilakukan berbagai upaya mengeluarkan janin dalam keadaan hidup (operasi Caesar).

Keempat: Sementara sebelum ditiupkannya roh pada fase kedua dan ketiga, hukumnya lebih ringan. Namun, tidak boleh menggugurkan janin tanpa alasan kuat berupa risiko kematian bagi si ibu. Berdasarkan kepastian dari dokter spesialis kandungan. Wallahu A’lam Bishowab. Baca selengkapnya di: Muslimah.or.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *